Salah satu kendala yang dihadapi pemula untuk menulis setiap hari adalah kekurangan ide atau gagasan yang akan ditulis. Keharusan menulis setiap hari membuat “bank gagasan” yang ada di otak seolah mengering, habis ditulis setiap hari. Seolah-olah, tidak ada lagi ide yang bisa ditulis. Kondisi inilah yang membuat penulis pemula kemudian mandeg untuk menulis. Pada awalnya, mungkin hanya sekali meninggalkan kebiasaan menulis setiap hari. Namun, pada akhirnya, jika terus dibiarkan, kebiasaan mandeg inilah yang akan terjadi, menggantikan kebiasaan menulis setiap hari.
Karenanya, kekeringan ide dalam menulis tidak boleh
dibiarkan. Benar kata RA. Kartini, ide tidak boleh ditunggu, harus dicari!
Harus dijemput, ke manapun! Sehingga ide itu terus hadir dan hidup dalam diri
kita, dan bisa ditulis kapan saja kita mau. Lantas, bagaimana caranya menjemput
ide tersebut?
Kebiasaan dan cara berikut barangkali akan membantu penulis
pemula untuk mencari dan menemukan ide tulisan. Pertama, kebiasaan
mencatat. Bawalah balpoin dan buku
kecil, ke manapun Anda pergi. Di zaman ini,peran balpoin dan buku catatan di
sini bisa digantikan oleh handphone, yang belakangan diperkaya dengan
fitur-fitur yang semakin canggih. Poin yang perlu digarisbawahi di sini:
catatlah apa yang Anda lihat, hal-hal kecil yang bagi orang lain tidak penting,
mungkin saja itu penting bagi Anda sebagai sumber ide untuk menulis. Misalnya,
Anda menemukan kesalahan kecil sebuah tulisan
semacam “Tempat Parkir Dosen” di sebuah perguruan tinggi. Padahal,
semestinya “Tempat Parkir Kendaraan
Dosen”. Catatlah! Bisa jadi, catatan tersebut nantinya akan menjadi sumber
ide untuk menulis tentang kepedulian
berbahasa di ranah publik. Kebiasaan mencatat hal-hal kecil seperti ini juga
pada akhirnya akan membiasakan Anda untuk memperhatikan sisi-sisi terkecil dari
suatu hal, sehingga Anda dapat melihat sesuatu secara lebih komprehensif, tidak
parsial.
Kedua, berpikir kritis. Biasakanlah untuk selalu berpikir
kritis dalam melihat dan menanggapi suatu peristiwa. Jangan mudah percaya
terhadap suatu hal, apalagi soal kebijakan pemerintah. Karena kita harus
memahami bahwa setiap kebijakan yang dikeluarkan oleh pemerintah tidak lepas
dari kepentingan-kepentingan tertentu. Prinsip dalam berpikir kritis
bersikaplah, “ada apanya”, bukan “apa adanya” dalam melihat suatu hal.
Ketiga, tentu saja
Anda wajib membaca buku. Tentang hal ini, tidak perlu diulas panjang lebar.
Mustahil Anda akan mendapatkan ide jika tidak pernah membaca buku. Membaca buku
tidak sekadar menyerap ide dari tulisan orang lain, tetapi juga belajar cara
orang lain mencari dan menemukan ide untuk ditulis.
Keempat, sering-seringlah Anda bertukar pikiran dengan orang
lain. Berdiskusi. Berdiskusi memungkinkan Anda untuk menguji kekuatan gagasan
Anda sebelum benar-benar dituangkan dalam tulisan. Selain itu, dengan berdiskusi,
Anda bisa bertukar lebih banyak informasi, mengingat masing-masing orang
mempunyai informasi yang berbeda sehingga bisa saling dibagi satu sama lain.
Kelima, jangan sungkan untuk observasi ke lapangan. Jangan
jadi penulis “katak dalam tempurung”. Sebab, di lapangan, Anda akan menemukan
hal-hal baru yang akan menambah kekayaan “Bank Ide” Anda sehingga bisa Anda
buka dan gunakan sewaktu-waktu.

Komentar Pembaca