Dari pada
menggosipkan teman sekantor atau tetangga yang jelas-jelas tidak berpahala,
seperti salah satu penulis di Voila ini, saudara Syafiqurrahman, mending membicarakan (memperdebatkan pun, boleh) ide-ide dan beberapa
diskursus keilmuan. Anda bisa membaca beberapa tulisan saudara Syafiqurrahman
yang menggosipkan teman sekantor atau tetangganya, di antaranya: “Merdeka, Kata Mereka”(20/8/2017) dan, tujuh hari
kemudian, “Romantis Tidak Bisa DiprediksiDari Luarnya Saja” (27/8/2017). Alah,
daripada ikut-ikutan bergosip—yang tidak berpahala itu, mending saya mulai saja tulisan ini.
***
Pemilihan Gubernur Jawa Timur (Pilgub Jatim) tidak lama lagi akan dihelat. Santer disebut Gus Ipul (Saifullah Yusuf, Wagub sekarang) dan Khofifah (sekarang Menteri Sosial) akan maju sebagai Cagub. Keduanya telah sangat getol menyampaikan keinginannya di depan publik untuk maju, tinggal menunggu waktu deklarasi. Demikian juga dukungan dari partai pendukung, dapat dikatakan sudah terbelah menjadi dua. Setidaknya tinggal PDIP yang belum menentukan sikap.
Hahai.., tidak
lama lagi akan kita saksikan perdebatan di seputar “kepemimpinan perempuan”
dalam Islam, mengingat Khofifah adalah perempuan. Kita masih ingat, di saat
Megawati mencalonkan diri sebagai capres bersama KH. Hasyim Muzadi sebagai
cawapres, perdebatan mengenai boleh-terlarangnya perempuan menjadi ulil amri, menjadi presiden. Sejumlah
penelitian dilakukan, ratusan makalah ditulis, dan forum-forum ilmiah digelar. Ada
yang mengkajinya dari sisi nash Al-Qur’an
dan hadits, ibarah fiqih, dari sisi
yuridis, HAM, gender, demokrasi, dan diskriminasi pada perempuan.
Ayat-ayat—beserta
ragam penafsirannya—yang sering dirujuk dalam debat itu antara lain yang
terdapat dalam QS. Saba'/34: 15, yaitu pada kalimat: ...baldatun thoyyibatun wa robbun ghafuur (artinya: …[Negerimu]
adalah negeri yang baik dan [Tuhanmu] adalah Tuhan Yang Maha Pengampun). Ayat
lainnya adalah yang terdapat pada An-Nisaa’/4: 34, ialah Arrijalu Qawwaamuuna ‘alan Nisa’...; al-Aayat.
Biasanya, pada ayat pertama (QS. Saba'/34: 15) sering dikatakan bahwa gelar baldatun thoyyibatun wa robbun ghafuur diberikan kepada Negeri yang dipimpin oleh seorang ratu, bukan raja; perempuan, bukan laki-laki. Lalu, bla-bla-bla… Sedang pada ayat kedua (An-Nisaa’/4: 34), sedikitnya ada dua pangkal perdebatan, yaitu pada kata: Arrijalu dan Nisa’, serta kata Qawwaamuuna. Dikatakan bahwa Arrijalu dan Nisa’ itu maknanya adalah “laki-laki” dan “perempuan”. Ada pula yang memaknai Arrijalu dengan “kelaki-lakian” serta Nisa’ dengan “keperempuanan”.
Sedang dalam
kata Qawwaamuuna ada yang bilang
maknanya adalah “pemimpin”, “pemegang urusan”, dst. Kalau menurut Pak Quraish, abahnya
Tuan Rumah Mata Najwa, Qawwaamuuna itu
berasal dari Qaama-Yaquumu yang
mengandung arti “melaksanakan dengan sebenar-benarnya”, bukan hanya bermakna
berdiri. Menurut beliau, kalau Qaama-Yaquumu
hanya memiliki makna “berdiri”, sebagaimana sering sekali kita mengartikan
ayat-ayat shalat (QS. Al-Baqarah/2: 3, QS. An-Nisa'/4: 162, QS. Ibrahim/14: 31,
dll.) dengan “mendirikan shalat”, maka dalam ayat Arrijalu Qawwaamuuna ‘alan Nisa’ akan ditemukan terjemahan yang aneh: “Kaum
laki-laki itu berdiri di atas kaum wanita” atau “Kaum laki-laki berdiri bagi
kaum wanita”. Aneh kan? Lucu kan? Tapi, demikianlah di seputar perdebatan itu. Selain ayat, terdapat hadits-hadits yang dipakai untuk
memperkuat pendapat masing-masing mereka—TENTU saja sesuai kepentingan
politiknya.
Saya prediksi, perdebatan sejenis ini akan terjadi lagi
dalam momentum Pilgub Jatim yang akan datang. Walaupun partai-partai itu, yang
mendukung calon ini atau calon itu, sama sekali tidak lagi mempertimbangkan
ideologi partainya. Kita saksikan saja beberapa komposisi partai pendukung di
tingkat nasional maupun daerah (provinsi, kota, kabupaten) dari beberapa
momentum pilkada dan pil-pil lain yang sudah berjalan. Semuanya sudah mencair.
Demikian juga dalam prediksi komposisi partai pendukung Gus Ipul dan Ibu
Khofifah.
Kita sambut saja potensi perdebatan mengenai kepemimpinan
perempuan dalam Pilgub Jatim ini. Anda bisa ikut-ikutan memperdebatkannya, bisa
menjadi penonton saja, bisa juga tetap bekerja seperti biasa, abaikan saja apa
yang akan terjadi itu. Asal jangan ikut-ikutan bergosip, seperti saudara
Syafiqurrahman, salah satu penulis di forum ini. Kalau dibikin kelas-kelas,
maka yang suka bergosip atau membicarakan orang lain itu, masuk kategori kelas
3 (paling bawah). Kelas di atasnya, mereka yang membicarakan kegiatan dan
program. Sedang kelas 1, kelas yang terbaik, membicarakan ide-ide. Entah siapa
yang bikin kelas 1-2-3 ini. Hahaha.... Masih mau ikut-ikutan
saudara Syafiqurrahman?Kalau gue, sich,
emoh…
(Ach. Khatib, pembaca buku)
_____________
Gambar: liputan6.com
(Ach. Khatib, pembaca buku)
_____________
Gambar: liputan6.com

Komentar Pembaca