Ongki Arista U A, asal sumenep. Sarjana Bahasa Inggris STAIN Pamekasan.
“Selfie
ialah kesalahan kecil yang dibanggakan begitu besar”
[Hipotesis klise]
Kita sama-sama bersaksi bahwa modernisasi telah berani menggeser kebudayaan, nilai hingga etos kerja kita. Ia menggesernya dengan sangat pelan dan penuh ketelatenan, sedikit demi sedikit dan sepertinya hendak membentuk gunung es. Jika kita menyepelekan pergeseran ini, suatu saat kita akan mengkawatirkannya. Ia akan datang sebagai sebuah ancaman besar dalam kehidupan sehari-hari.
Tentang Ber-selfie; Foto
Di
era 90-an, foto menjadi sangat berharga bagi kehidupan kita. Selain karena teknologi
pada waktu itu tidak memadai, keinginan untuk berfoto sangatlah minim, sehingga
satu foto saja sangatlah berharga--bahkan keramat. Minimnya keinginan untuk
berfoto pada dasarnya karena keterbatasan alat untuk dikoleksi secara pribadi. Jarang
sekali kita berjumpa dengan orang yang berani meminta dirinya untuk difoto,
kecuali model dan bintang film atau karena ada kebutuhan khusus. Sekarang berfoto
itu menjadi rutinitas--nyaris menjadi kewajiban rukun hidup manusia modern--dan
hal ini menjadi bukti bahwa alat penunjang foto, seperti kamera, telah dimiliki
secara pribadi oleh masing-masing individu sehingga berselfie sangatlah mungkin
diaktualkan tanpa batas apa pun.
Rutinitas berfoto atau memfoto diri sendiri ini disebut selfie. Saya tidak tahu akar istilah selfie ini. Ia mendekati kosa kata bahasa Inggris yakni self dan selfish yang dekat artinya dengan diri sendiri atau diri yang egois dan ceroboh. Jadi, selfie terkadang mendekatkan kita pada ke-"aku"-an (diri sendiri) atau ego yang cenderung ceroboh, tentu dengan tanpa kita sadari secara tepat.
Kita tentu banyak menemukan realitas berselfie yang tampak meng-aku-kan atau menonjolkan diri sendiri. Tak terlewatkan, selfie kaum hawa dengan aksi diri yang buka-bukaan dengan niat dipamerkan. Di sana, ada aksi pamer diri atau "aku" yang cenderung fatal dipublikasikan melalui rumus sederhana; berselfie. Entah, sampai di sini, saya belum menemukan nilai-nilai moral yang luhur pada kegiatan selfie pada mayoritas kaula muda.
Di sisi lain, hampir segala hal menjadi agak kabur untuk ditelaah. Seseorang bisa saja beralasan bahwa berselfie itu untuk mendokumentasikan diri sendiri. Tapi apakah tak dapat dijamah apabila ada suatu tanya dari pojok jauh; dokumen macam apa yang hendak dicapai dengan cara berselfie sedangkan dalam waktu bersamaan terpatri pola-pola berselfie yang berujung pamer? Kita memang tak dapat menerka niat seseorang, tapi setidaknya kita dapat merasakan aliran deras niat seseorang yang termaktub dalam aksi-aksi selfienya.
Selfie Kaitannya dengan Popularitas
Tak
terelakkan pula, sekarang kita berada di suatu medan, di mana mayoritas
masyarakat berlomba-lomba pada suatu zona yang disebut "popularitas".
Ajang pencarian popularitas ini memanfaatkan akun di media sosial; melalui
Facebook, Twitter, Instagram, BBM dan akun medsos lainnya. Upaya mencapai
popularitas ini seringkali melibatkan aksi-aksi selfie yang nyeleneh. Dari
berselfie ria yang tubuhnya tertutup hingga yang paling terbuka sekalipun.
Di sana, kita tidak dapat menebak apa pun selain menyaksikan bahwa mereka memang menyengaja untuk memamerkan kecantikan dirinya atau kemolekan tubuhnya untuk dikonsumsi publik secara rutin. Ujung-ujungnya jenis konsumsi semacam ini akan dikenal-terkenal; menguasai pasar atau bahasa eufimisnya akan mencapai titik "populer". Bagi penulis, popularitas itu dekat sekali maknanya dengan "pasaran". Intinya, ya, banyak dikenal orang. Untuk mencapai popularitas di media sosial, pertama-tama kita harus memasarkan diri kita; pamer tubuh, penampilan, kegiatan, medali dan segala hal yang mendukungnya untuk mencapai popularitas itu. Barangkali, riya' dan sombong tidak sempat penulis sebut sebagai dua sifat yang melekat pada upaya mencapai popularitas.
Di bagian ini, berselfie tak ubahnya memasarkan diri. Terlalu samar bagi kita untuk membedakan antara berselfie yang sekedar mendokumentasikan diri dengan berselfie yang bertujuan memasarkan diri demi memperolah banyak pujian (riya'). Sebagai kaum terpelajar dan atas nama hasil belajar, maka kita tidak boleh menyamarkan niat busuk dengan dalih-dalih simpel dan cukup mapan; mengatakan sekedar dokumentasi.
Ketika sifat riya' merayap dan terselundupkan dengan rapi pada struktur popularitas, maka pengertian dasar riya' dan substansinya menjadi hilang, lalu popularitas menjadi pembebas dari sifat riya'. Sifat riya' seakan tidak pernah ada pada diri seorang tokoh populer yang sedang menampilkan dirinya di berbagai akun sosial. Seakan-akan seseorang yang telah populer telah wajib diri untuk tampil dan terbebas dari sifat pamer. Padahal, sifat pamer bisa saja melekat pada diri siapapun, termasuk pada tubuh atau diri manusia yang populer, hanya saja lebih rapi terselundupkan.
Di sini, dosa-dosa karena pamer dan minta dipuji seakan lenyap begitu saja dan berganti "popularitas" yang dibungkus rapi dengan ber-selfie [baca; berfoto]. Seakan tiada dosa pamer bagi kaum populer yang memamerkan segala hal dalam dirinya. Entah, dari mana momen klise macam ini merajut idenya dan muncul begitu saja mengatasi sifat-sifat pamer yang tercela. Bagi penulis, terselundupkannya sifat riya' atau pamer dalam diri seseorang yang populer serupa menghapus sifat riya' atau pamer dengan mengubahnya berwujud beda yang lebih menarik; popularitas.
Kata selfie tidak ada dalam KBBI maupun dalam Kamus Bahasa Inggris. Kita menemukan maknanya pada kamus realitas sosial secara kontekstual. Hanya ada dua kata yang mendekati selfie yakni self; diri sendiri dan selfish; berlebihan. Selfie ini bisa saja dikait-dekatkan maknanya dengan kata self dan selfish. Jika kata self dan selfish itu dikompromikan dalam aksi selfie, maka berselfie maknanya sama dengan memamerkan diri sendiri dengan berlebihan atau ceroboh. Apakah berselfie benar-benar mendekati aksi ke-aku-aku-an yang berlebihan dan mendekati kecerobohan? Mari kita kembali pada kamus realitas sosial yang kontekstual di lingkungan kita sehari-hari.
Dua masa; Dulu vs Sekarang
Dulu,
tidak ada yang mau menfoto diri sendiri, bahkan malu lihat kamera, karena
mereka menganggap dirinya jelek dan tak menarik. Sekarang justru berbalik
jutaan drajat. Semuanya mendadak menjadi seorang model amatir. Entah mengapa
sampai demikian. Apa mungkin ada pergeseran ide yang menyebabkan kita terpaksa
berparadigma "kita itu cantik dan ganteng" dan harus percaya diri
untuk berselfie? Bukankah menganggap diri itu tampan dan cantik itu adalah
berlebihan? Jika itu benar berlebihan, maka selfie mendekati selfish.
Dengan
ini penulis menganggap bahwa selfie lebih mendekatkan kita pada ihwal buruk.
Dulu--untuk yang kedua kalinya--orang-orang benar-benar menghargai sebuah foto
karena kebanyakan orang yang ada di foto adalah orang-orang berwibawa, keramat,
dicintai, dikasihi dan disayangi. Mereka berfoto bukan karena tren seperti
sekarang, tapi karena tuntutan kedudukan dan identitas yang khusus. Yang
kekinian dapat kita saksikan, ratusan foto setiap jam bahkan menit diproduksi
oleh orang yang. Silahkan cek, berapa banyak foto kita-kita di galeri gadget
kita, belum lagi yang kita hapus. Kira-kira, apa kedudukan dan identitas khusus
saya dan anda? Mengapa terlalu berlebihan berselfie?
Absurditas dan Sisi yang Terlupakan
Sebenarnya
kalau kita menelaah, apa perbedaan spesifik pada popularitas dan pasaran? Saat
wajah kita dibilang pasaran, kita terlalu mudah marah. Tapi saat wajah kita disebut
populer, malah kita dengan secepat kilat bersenang diri. Apakah tidak sedikit
membingungkan? Sedangkan pasaran dan popularitas itu sama-sama persoalan
banyaknya orang yang mengenal kita. Benar, sangat samar dan rapi dalam
menelaahnya.
Ajang mencari popularitas kekinian yang paling ngetop adalah melalui akun instagram yang memang dirancang untuk meng-upload self and other pictures. Jika ditelaah sedikit mendalam pada aksi-aksi selfie kekinian, justru ada nilai yang kurang etis dan mudah sekali merusak kharisma seseorang ketika ia berselfie. Bisa dibayangkan bagaimana pudarnya kharisma seorang Kiai atau publik figur lainnya yang berselfie kekinian; memonyongkan bibir, misalnya.
Ya, selfie sekedar bujuk rayu kekinian yang katanya mendukung eksistensi, citra diri, mode, style, update--untuk disebut ada. Sejak saat itu, Cogito Ergo Sum-nya madzhab Cartesian barangkali pas diganti menjadi "Selfi Ego Sum" di dunia yang alay ini. Mungkin, saat ini, orang-orang yang tidak punya banyak foto itulah yang lebih berwibawa dari kita yang tiap hari menghapus foto jelek dan menyimpan foto bagus.
Resolusi Tulisan sebagai Permulaan Ide Baru
Terakhir,
berselfie dengan tambahan kamera yang berfungsi mempercantik dan ganteng adalah
sekawanan candu yang memikat diri manusia kekinian untuk terus-menerus
berselfie. Kita tahu, bukan hanya berita bohong yang disebut hoax, tapi
meng-upload foto editan dan jauh dari keadaan yang sesungguhnya adalah hoax
terbesar di dunia "selfie".
Marilah kita menjadi pengguna akun media sosial yang baik. Sebaik-baiknya selfie ialah
dengan tidak berselfie secara berlebihan. Bagaimana kita mengukur aksi-aksi
selfie kita agar tidak berlebihan? Semua dimulai dari pengetahuan kita.
Hipotesis akhir penulis, foto kita dan cara kita berfoto menunjukkan pola pikir
kita. Karena saat kita mengukur kepantasan foto kita untuk di-upload,
saat itulah pengetahuan berfungsi mendukungnya atau justru menolaknya sama
sekali. Di sini, pengetahuan dapat memulai fungsi sosialnya, menjadi yang
terpokok dalam mengendalikan aksi-aksi selfie.

Komentar Pembaca