Paisun, dosen Instika
Jokowi yang orang Madura itu direncanakan akan mudik pada tanggal 08 Oktober 2017. Tentu saja, kedatangannya kali ini tidak untuk mengukuhkan Voila sebagai web anak muda paling kece di Madura. Bukan pula untuk meresmikan Madura sebagai Provinsi. Jokowi direncanakan akan berkunjung ke Pondok Pesantren Annuqayah Guluk-Guluk Sumenep Madura, entah untuk acara apa. Yang jelas, Jokowi tidak bersama Raisa namun tetap membawa sepeda.
Lepas dari acaranya apa dan bagaimana, tulisan ini akan
menyajikan pilihan rute yang bisa dipilih oleh Jokowi berikut dengan maslahah dan
mafsadatnya masing-masing. Sekadar gambaran, dalam kunjungan pertama Jokowi ke Madura
setelah menjadi presiden, pada tanggal 19
Maret 2016, Jokowi sebagai presiden paling sederhana di dunia memilih menggunakan
Helikopter. Pada saat itu, dari Surabaya, Jokowi langsung menuju Sampang menggunakan
Helikopter untuk meresmikan proyek bendungan Waduk Nipah yang sudah mangkrak bertahun-tahun.
Hal ini berbeda dengan SBY saat berkunjung ke Madura,14
Desember 2013. SBY memilih jalur darat melalui Suramadu kemudian melewati Bangkalan,
Sampang, Pamekasan dan tiba serta bermalam di Sumenep. Tentu saja, perjalanan jalur
darat tersebut cukup melelahkan karena dari Surabaya ke Sumenep bisa memakan waktu
4 hingga 5 jam perjalanan di siang hari. Namun perjalanan melelahkan ini akan terasa
lebih ringan manakala melihat ribuan anak sekolahan yang dipaksa berjejer
sepanjang Bangkalan-Sumenep, sebagai bukti kecintaan mereka terhadap presidennya.
Belum lagi dengan tiba-tiba mulusnya jalan Bangkalan-Sumenep yang menambah
nyaman perjalanan SBY ke Sumenep.
Lantas, sebaiknya, jalur mana yang harus dipilih oleh Jokowi
saat mudik ke Madura 8 Oktober nanti?
Jalur Darat
Ada dua cara memasuki Madura lewat jalur darat, yakni melalui pelabuhan
Kamal atau melewati jalan tol Suramadu. Dengan melalui pelabuhan kamal dan naik
Kapal Ferry tentu saja lebih ribet. Namun presiden yang eksekutor itu bisa melihat
dan memikirkan masa depan pelabuan kamal yang dulunya ramai karena menjadi satu-satunya
jalur menuju Surabaya dan sebaliknya, namun kini nasibnya la yamutu wa la yahya. Sementara kalau lewat tol Suramadu perjalanan relatif
lebih lancar. Pak Jokowi bisa juga melihat bahwa pembangunan pasca-Suramadu berjalan
di tempat. BPWS sebagai badan yang diberi amanah oleh pemerintah untuk mengembangkan
wilayah sekitar Suramadu tidak berjalan dengan maksimal.
Setelah masuk ke Madura, masih ada dua pilihan lagi bagi Pak Presiden,yakni
lewat jalur utara dan jalur selatan. Apabila ingin perjalanan darat yang sepi, lancar,
dan menyenangkan, sebaiknya lewat jalur utara. Mengapa demikian? Sebabnya karena
jalur utara masih jarang dilalui kendaraan bermotor. Transportasi umum seperti bus
tidak ada yang lewat jalur utara, semuanya lewat jalur selatan.
Jalur selatan adalah jalur standar yang dilewati masyarakat. Jalur selatan
ini adalah jalur yang menghubungkan empat kota kabupaten di Madura. Karenanya, jalur
ini selalu ramai dan macet di hari-hari tertentu. Kalau boleh menyarankan, sebaiknya
Pak Jokowi melewati jalur ini. Bukan apa-apa, pengerjaan proyek jembatan sepanjang
Sumenep-Bangkalan masih belum selesai hingga saat ini. Selain itu, sudah ada beberapa
ruas jalan yang berlubang dan bergelombang. Percayalah, kalau presiden melewati
jalur ini, proyek perbaikan jembatan akan selesai dengan cepat. Demikian pun dengan
jalan darat sepanjang Bangkalan-Sumenep yang hendak dilewati presiden, dijamin akan
mulus dan licin tanpa noda, sebagai mana dulu saat SBY berkunjung ke Madura. Namun
saya yakin, Jokowi tidak akan memilih jalur ini. Hal itu semata-mata karena Jokowi
tidak ingin disamakan dengan SBY dalam segala halnya.
Jalur Laut
Ini sesuai dengan kebijakan ekonomi politik Jokowi yang kembali menggaungkan pembangunan ekonomi maritim dan di tengah getol-getolnya presiden membangun tol laut. Agar tidak sekadar wacana, presiden bisa membuka jalur tol laut (eh, tol laut apa sih?) dari Surabaya-Sumenep, yakni dari pelabuhan Tanjung Perak ke Pelabuhan Kalianget di Sumenep. Yang terpenting, kalau Jokowi mengikuti jalur ini, jalan rusak bertahun-tahun di Marengan akan segera mulus. Tidak seperti sekarang, yang masing-masing pihak seolah saling lempar tanggung jawab untuk memperbaiki jalur tersebut. Oya, satu lagi, dengan lewat jalur laut ini, Jokowi bisa tahu bahwa alat transportasi warga kepulauan jauh dari kata memadai.
Ini sesuai dengan kebijakan ekonomi politik Jokowi yang kembali menggaungkan pembangunan ekonomi maritim dan di tengah getol-getolnya presiden membangun tol laut. Agar tidak sekadar wacana, presiden bisa membuka jalur tol laut (eh, tol laut apa sih?) dari Surabaya-Sumenep, yakni dari pelabuhan Tanjung Perak ke Pelabuhan Kalianget di Sumenep. Yang terpenting, kalau Jokowi mengikuti jalur ini, jalan rusak bertahun-tahun di Marengan akan segera mulus. Tidak seperti sekarang, yang masing-masing pihak seolah saling lempar tanggung jawab untuk memperbaiki jalur tersebut. Oya, satu lagi, dengan lewat jalur laut ini, Jokowi bisa tahu bahwa alat transportasi warga kepulauan jauh dari kata memadai.
Jalur Udara
Inilah yang paling efisien dari sisi waktu. Jika kedua jalur sebelumnya bisa memakan waktu hingga berjam-jam, dengan menggunakan jalur udara perjalanan bisa ditempuh hanya dalam 45 menit. Jauh sekali bukan? Jalur ini cocok bagi Jokowi yang selama ini mempunyai tagline: kerja, kerja, dan kerja. Ketimbang waktu habis tak jelas di perjalanan, bukankah lebih baik digunakan untuk hal yang lain? Jokowi sebagai presiden paling sederhana di dunia tentu sudah mempertimbangkan tentang hal ini.
Inilah yang paling efisien dari sisi waktu. Jika kedua jalur sebelumnya bisa memakan waktu hingga berjam-jam, dengan menggunakan jalur udara perjalanan bisa ditempuh hanya dalam 45 menit. Jauh sekali bukan? Jalur ini cocok bagi Jokowi yang selama ini mempunyai tagline: kerja, kerja, dan kerja. Ketimbang waktu habis tak jelas di perjalanan, bukankah lebih baik digunakan untuk hal yang lain? Jokowi sebagai presiden paling sederhana di dunia tentu sudah mempertimbangkan tentang hal ini.
Untuk jalur udara ini, Jokowi bisa memilih di antara dua pilihan: mengikuti
penerbangan komersil atau memilih menggunakan Helikopter. Konon kabarnya, setelah
bertahun-tahun menunggu, masyarakat Madura bisa menikmati penerbangan komersil Sumenep-Surabaya
dan sebaliknya akhir bulan ini. Sabun Wings Air adalah maskapai pertama yang
melayani rute tersebut dengan pesawat ATR-72. Untuk itu, Jokowi bisa mencoba kenyamanan
pelayanan penerbangan dengan tarif ekonomi tersebut. Tentu saja tak masalah walaupun
kelas ekonomi karena Jokowi merupakan presiden paling sederhana. Harapan lainnya
tak lain agar dari Bandara Trunojoyo ke Guluk-Guluk jalan raya bisa mulus semulus-mulusnya,
melebih kulit pipi Raisa.
__________
Gambar: sgimage.detik.net.id

Komentar Pembaca